Sabtu, 25 Juni 2011

Anjuran Menyerukan Adzan pada Telinga Kanan Anak

Diriwayatkan oleh Abu Rafi' yang telah menceritakan:
"Aku melihat Rasulullah Saw menyerukan adzan di telinga Al-Hasan ibnu Ali saat baru dilahirkan ibunya, Fathimah." (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Baihaqi).

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa rahasia dilakukan adzan dan iqamah di telinga bayi yang baru lahir mengandung harapan yang optimistis agar mula-mula suara yang terdengar oleh telinga sang bayi adalah seruan adzan yang mengandung makna keagungan dan kebesaran Allah serta syahadat yang menjadi syarat utama bagi seseorang yang baru masuk Islam. Dengan demikian, tuntunan pengajaran ini menjadi perlambang Islam bagi seseorang saat dilahirkan ke alam dunia. Hal yang sama dianjurkan pula agar yang bersangkutan dituntun untuk mengucapkan kalimat tauhid ini saat sedang meregang nyawa meninggalkan dunia yang fana ini. Tidaklah aneh bila pengaruh adzan ini dapat menembus kalbu sang bayi dan mempengaruhinya meskipun perasaan bayi yang bersangkutan masih belum dapat menyadarinya. (Tuhfatul Maudud, karya Ibnul Qayyim).

Sudah kita maklumi semua bahwa setan akan lari terbirit-birit manakala mendengar suara adzan. Karenanya, setan yang berupaya mengganggunya akan mendengar kalimat yang paling dibenci olehnya saat sang bayi memasuki permulaan kehidupannya di alam dunia. Perlakuan ini menerangkan akan kepedulian Nabi Saw terhadap akidah tauhid yang harus ditanamkan secara dini dalam jiwa sang anak dan sekaligus untuk mengusir setan yang selalu berupaya mengganggu sang bayi semenjak kelahirannya dan memulai kehidupan barunya di dalam dunia.

Demikian pula setan selalu memukul bayi saat baru dilahirkan sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Abu Hurairah ra yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda:
"Tiada seorang anak Adam pun yang baru dilahirkan, melainkan setan menyentuhnya saat kelahirannya hingga ia menangis karena sentuhan setan itu, kecuali Maryam dan putranya." (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Selanjutnya, Abu Hurairah ra mengatakan: "Jika kalian suka, bacalah firman-Nya:
"Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan, dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemelharaan) Engkau dari gangguan setan yang terkutuk.'" (QS. Ali Imran [3]: 36).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra yang telah mengatakan bahwa tiada seorang bayi pun yang baru dilahirkan, melainkan pasti menangis, kecuali Isa, putra Maryam, dan bayi itu menangis karena perutnya diperas oleh setan sehingga si bayi menangis. (Ad-Darimi hadis no. 2999). Dengan demikian, adzan yang diserukan di telingan sang bayi akan menjadi pukulan balasan terhadap setan yang selalu berupaya dengan sekuat tenaganya untuk merusak keturunan Adam dan menghancurkan generasinya.

Islam menganggap bayi yang baru lahir sebagai berita gembira dan dahulu sebagian ulama salaf mengucapkan selamat kepada sebagian yang lain atas kelahiran bayinya.

Sesungguhnya anak merupakan salah satu dari nikmat Allah Swt yang dianugerahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia menahan nikmat-Nya terhadap siapa pun yang dikehendaki-Nya. Mengingat nikmat ini menyenangkan hati kedua orangtua bayi yang bersangkutan, para malaikat pun menyampaikannya sebagai berita gembira, seperti yang malaikat sampaikan kepada manusia yang menjadi utusan Allah dalam firman berikut:
"Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira." (QS. Hud [11]: 69).

sampai dengan firman-Nya:
"Dan istrinya berdiri (di sampingnya), lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (QS. Hud [11]: 71).

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya yang menceritakan berita gembira ini, yang disampaikan kepada para ayah dari utusan Allah akan kelahiran anak-anak mereka. Berangkat dari pengertian ini, dapat disimpulkan bahwa ucapan selamat atas kelahiran anak merupakan tuntunan yang dianjurkan oleh Allah Swt. Oleh karena itu, Allah Swt mengecam sikap orang yang merengut marah dan menerimanya dengan berat hati hanya karena bayinya yang baru lahir adalah perempuan. Mereka lupa bahwa sebenarnya Allah-lah yang menganugerahkan anak, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, dan sesungguhnya kehidupan ini tidak mungkin dapat berlanjut kecuali dengan adanya jenis laki-laki dan jenis perempuan. Allah Swt menilai sikap ini dalam firman-Nya yang mengatakan:
"Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu." (QS. An-Nahl [16]: 59).

Abu Bakar ibnul Mundzir telah mengatakan bahwa telah diriwayatkan kepada kami dari Al-Hasan Al-Bashri yang telah menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepadanya, sedang saat itu di hadapan Al-Hasan telah ada lelaki lain yang baru mendapat berita kelahiran anaknya. Lelaki yang baru datang itu pun mengucapkan selamat kepadanya dengan mengatakan, "Selamat, semoga dia menjadi calon penunggang kuda yang mahir." Al-Hasan membantah, "Apakah yang menyebabkan kamu tahu bahwa dia bakal menjadi penunggang kuda atau penunggang keledai?" Lelaki itu bertanya, "Lalu apa yang harus kami ucapkan?" Al-Hasan menjawab, "Semoga Allah memberkatimu dengan kelahiran anakmu. Semoga engkau bersykur kepada Tuhan yang menganugerahkannya. Semoga engkau mendapat anak yang saleh dan semoga anakmu tumbuh menjadi dewasa." (Tuhfatul Maudud karya Ibnul Qayyim).

Ucapan selamat dan memberi hadiah atas kelahiran seorang bayi jelas akan menyenangkan keluarga bayi yang baru lahir dan akan memberinya nuansa yang menggembirakan, serta mempererat tali kasih, kerukunan, dan ikatan persatuan di antara sesama kaum muslim.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar